Utak-atik Dagang Melalui Klik

Lebih dari 170 juta penduduk Indonesia terhubung dengan internet dan aktif di media sosial. Inilah yang membuat promosi lewat baliho di pinggir jalan kalah ampuh dibandingkan dengan satu video viral. Ikhwal pemasaran digital ini selalu moncer untuk dibahas.

Ada yang tahu odading Mang Oleh di Pasar Kosambi, Bandung? Jajanan roti goreng itu sedang kebanjiran pembeli, yang bukan cuma warga Bandung saja. Orang-orang dari luar Bandung tahu jajanan itu setelah video bikinan Mang Ade yang lagi mengunyah odading viral di media sosial.

Video bikinan Mang Ade, warga Pasar Kosambi, pendek saja dan gambarnya kusam. Mang Ade juga bicaranya cuma meracau, sambil mengunyah odading, yang katanya bisa bikin jadi Iron Man, ha-ha-ha.

Justru dari video sederhana apa adanya itulah Mang Oleh kebanjiran pembeli, suatu hal yang tak pernah dia rasakan berpuluh tahun berjualan odading dan cakue di sana. Jadi, lewat video itu, Mang Ade berhasil memengaruhi orang untuk jajan odading. Mang Ade sah jadi influencer atau pemengaruh walau tak pernah dia niatkan sebelumnya.

Fenomena kesuksesan odading Mang Oleh merupakan ilustrasi salah satu strategi pemasaran yang memanfaatkan media sosial. Strategi ini dianggap masih bertaji, terutama bagi produk yang belum terlalu dikenal masyarakat.

”Influencer adalah jembatan antara brand (merek produk) dan calon konsumennya. Brand yang belum kuat atau baru perlu (dikenalkan) lebih masif, kan. Nah, kolaborasi antara influencer dan brand sangat vital. Apa pun bentuk kolaborasinya itu masih bagus banget sampai sekarang,” kata Niko Julius, seorang pemasar digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *