Perubahan perilaku konsumen hari ini tidak lagi bisa dijelaskan hanya dengan istilah digital native atau omnichannel. Dalam buku terbarunya, Marketing 7.0, Iwan Setiawan, COO MCorp., memperkenalkan konsep baru yang ia sebut sebagai augmented human.
Konsep ini berangkat dari pengamatan bagaimana teknologi hari ini bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan bagian dari sistem berpikir manusia. “Sudah tidak ada yang hafal nomor telepon, bahkan keluarga terdekatnya. Semua di-outsource ke perangkat,” ujar Iwan dalam pemaparannya.
Fenomena ini ia sebut sebagai cognitive outsourcing, yakni ketika fungsi mengingat, menjadwalkan, hingga mencari jawaban dialihkan ke perangkat digital dan AI. Kalender, daftar belanja, pengingat tugas, bahkan ide dan strategi kini bisa didiskusikan dengan chatbot atau AI generatif.
Namun, augmented human bukan hanya soal memori yang “dipinjamkan” ke teknologi.
Digital-First Socializing
Iwan menyoroti bahwa interaksi sosial kini hampir selalu dimulai dari kanal digital. Orang berkenalan lewat LinkedIn atau Instagram, lalu melanjutkan komunikasi melalui chat sebelum akhirnya bertemu secara fisik.
“Digital channel dipakai untuk maintain relationship,” jelasnya. Artinya, ruang sosial manusia telah terdigitalisasi. Relasi tidak lagi dibangun hanya lewat tatap muka, melainkan lewat notifikasi, DM, dan percakapan virtual yang berlangsung sepanjang hari.
Emotion Management Berbasis Algoritma
Karakter lain dari augmented human adalah cara mereka mengelola emosi melalui teknologi. Generasi muda, misalnya, memiliki playlist berbeda untuk setiap suasana hati, saat bekerja, bepergian, atau ketika merasa lelah.
Platform seperti TikTok dan YouTube pun menyajikan konten berbeda tergantung waktu dan preferensi pengguna. Algoritma membaca pola perilaku, lalu menyajikan konten yang relevan dengan mood di jam tertentu.
“Di jam tertentu mereka tahu akan dapat konten apa, karena algoritma sudah membaca kebiasaan dan mood mereka,” kata Iwan. Teknologi, dalam hal ini, tidak hanya membantu produktivitas, tetapi juga mengatur ritme emosi sehari-hari.


Leave a Reply